Sinetron Sekedar Hiburan ataukah Pemancing Emosi

17 Nov 2013

Kemaren sore sambil menunggu waktu Maghrib, nonton TV dengan aktivitas gak jelas pindah-pindah chanel. Biasanya sih nggak demen nonton tapi kemaren nggak tau lagi males banget buka Laptop untuk online.

Nah dari edisi sport yaitu pertandingan bulu tangkis yang disiarkan live, pindah ke acara musik, satu lagu habis dan lagu berikutnya nggak menarik trus pindah ke sinetron. Nah, sinetron ini deh yang bikin gue akhirnya kepikiran buat satu tulisan.

Pas pindah ke sinetron yang disiarkan salah satu tv swasta itu sudah dipertengahan, tapi tau khan sinetron Indonesia walaupun liatnya pas pertengahan atau pas mo habis sekalipun sudah bisa ketebak jalan ceritanya (ihhh..ngapain gue nonoton yak klo begitu—garuk2 kepala yang gak gatal).

Nah, ceritanya klasik banget deh. Seorang istri yang kaya banget, menikah dengan lelaki yang usianya lebih muda jauh dari dirinya. Tinggal dengan mertuanya perempuan dan anaknya dari pernikahannya sebelumnya. Si suami ini kelakuannya jahat banget, mengincar kekayaan istrinya (harta warisan dari suami terdahulu banyak), oya si suami dibantu sama ibunya, mertua si wanita cantik.

Sepanjang sinetron yang gue tonton selama kurleb 15 menit (karna abis itu gue pindah chanel lagi), isinya wajah-wajah dengan penuh licik, percakapan antara ibu dan anak (si laki+ibunya) yang merancang untuk menghabiskan harta, seorang istri yang tabah banget, wajahnya memelas , setingan adegan yang kategori dewasa (pelecehan majikan kepada pembantu), teriakan emosi pemain sepanjang film. Moral story dari sinetron ini nggak ada, dan saat gue nonton ini kayaknya emosi jadi terpancing (ih nggak banget khan). Sinetron ini juga jam tayangnya gak tepat, jam dimana anak-anak masih bangun, lebih parah lagi nggak ada kategori tontonan. Bila ortu nggak peduli atau malah demen dengan sinetron seperti ini maka pengaruhnya terhadap anak sangat besar terutama emosinya itu loh.

Dari adegan sinetron pada umumnya yang bisa mempengaruhi anak antara lain:

  • Perilaku anak kepada orang tua menjadi berubah. Gue sih eneg banget pas liat adegan yang orang tua dipukuli, diomelin. Nah, dikehidupan nyata kita diajari untuk mendengar perkataan ortu, klo pun ortu salah (krn ortu gak sempurna) maka anak wajib menyampaikan dengan santun. Perilaku santun anak kepada ortu tetap harus dipertahankan, karna doa ortu adalah jalan sukses anak. Nah, gimana bila anak-anak kita melihat sinetron yang seperti ini, dalam pikirannya pasti wajar anak membentak ortu, membantah ucapan dengan suara keras.
  • Gaya yang berlebihan. Pernah lihat sinetron remaja yang menampilkan gaya para pemerannya?. Ke sekolah dengan make up, roknya pendek banget, aksesoris yang berlebihan, serta gadget yang tercanggih. Klo menurut gue berlebihan banget dan cenderung ditiru habis-habisan niy, akibatnya bisa kita lihat sendiri deh. Banyaknya berita anak yang melakukan pencurian demi sebuah gadget. Atau adegan cinta antar remaja (SMP sudah cinta-cintaan???), ini jadi contoh yang buruk banget, Oh…yang lain udah lakuin nah wajar donk klo gue juga lakuin (kira-kira gitu pikirannya)
  • Sinetron agama tapi tak ada pesan agama dan moralnya. Dari judulnya saja bisa kita menilai isi didalamnya. Anak mengambil hal yang salah dari sinetron seperti ini
  • Sinetron yang bermuatan kekerasan akan menstimulus otak anak untuk meniru dan menganggap wajar sebuah kekerasan

Sinetron yang mendidik dan benar-benar mempunyai moral story bisa dihitung atau bahkan nggak ada deh. Sinetron sekarang saling kejar-kejaran dalam sisi komersil, yang penting laku, yang penting rating naik dan banyak iklannya.

Klo saran sederhana dari gue sih, sebisa mungkin jauhkan anak kita dari televisi artinya bukan melarang atau meniadakan televisi yak (kasian amat klo gini) tapi ada jam-jam tertentu anak diperbolehkan untuk nonton TV. Klo dulu sih yah saat gue masih kecil maka jam sore adalah jam gue nonton TV, diijinkan 1-2 dua jam doang, selebihnya mesti belajar dan paling banyak klo sore hari setelah boci itu maen sama anak-anak komplek (ehh.. tapi itu dulu loh). Ortu jadi contoh deh, biar anak nggak nonton sinetron gak jelas maka ortu juga jangan nonton, ganti aktivitas dengan membaca misalnya, jadi pas anda duduk di depan TV yang nggak hidup dan membaca maka anak khan akan segan untuk menghidupkan TV. Pas anak rewel misalnya jangan deh menenangkan dengan cara menghidupkan TV dan mengajaknya nonton, ajak mereka dengan cara lain deh. Menanamkan sejak dini kepada anak agar lebih menghargai waktu daripada menghabiskan waktu berlebihan didepan TV.

Semoga yah, nanti ada sinetron yang benar-benar berfungsi sebagai hiburan murni, sarat makna dan pendidikan.

Jadi pengen share sinetron Jadul yang bagus-bagus, ini yah….

Si Doel anak sekolahan

Si Doel anak sekolahan (sumber)

Keluarga Cemara

Keluarga Cemara (sumber)

ACI

ACI

Sinetron Sengsara Membawa Nikmat

Sinetron Sengsara Membawa Nikmat

69ef19acc8f8a6bfa3cd9496c8482bac_rmd

Rumah Masa Depan


TAGS sinetron pendidikan hiburan positif moral anak emosi anak


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post