Ketika Sehat Menjadi Milik Semua

8 Dec 2013

78af3880fb5be60380f0d1026a1e4d78_2012-11-18-15-03-34_wm

“Bu, harga darah per kantong 250rb, dan bila darahnya dicek lagi maka harganya lain, dan karena di RS ini habis maka kami harus mengambil ke PMI di kota, totalnya sekitar 1.8jt untuk seluruh keperluan darahnya”

” Baiklah, segera ya dok, yang penting kakak saya bisa ditangani secepatnya”

Dialog ini masih saya ingat, tepat setahun yang lalu saat kakak mengalami pendarahan yang hebat dan ini menjadi salah satu inspirasi untuk menulis blog berkaitan dengan kesehatan, saat sakit maka sehat itu sangat mahal, tidak heran jika banyak yang mengatakan “Orang Miskin dilarang sakit”. Penyebabnya adalah mahalnya harga untuk sehat dinegri ini (bila kita mengalami sakit). Kita bisa hitung biayanya, untuk sebuah kantong darah maka harus mengeluarkan ratusan ribu rupiah bahkan jutaan bila yang diperlukan lebih dari satu kantong. Belum lagi obat-obatan dan biaya dokter setiap kali kunjungan. Bersyukur kakak tidak kesulitan dalam masalah biaya. Tapi bagaimana dengan saudara-saudara kita yang lain, yang keadaan ekonominya dibawah rata-rata, masyarakat miskin/ kaum dhuafa bila mereka sakit akan kemanakah mereka? Pada saat sakit maka bukan hanya pasien miskin yang menderita tapi keluarganya juga ikut sakit, saat memikirkan biaya yang harus dikeluarkan.

Kemiskinan dan kompleksitas masalah kesehatan

Kemiskinan adalah suatu kondisi dimana adanya ketidakmampuan dalam pemenuhan kebutuhan dasar yaitu makanan, pakaian, tempat berlindung, akses pendidikan dan kesehatan. Kondisi miskin sangat mempengaruhi pola pikir seseorang. Masyarakat miskin cenderung mengabaikan faktor kesehatan, pola berpikirnya cenderung asal bisa makan, asal perut kenyang maka hidup bisa berlanjut. Jangan berharap untuk menghitung nilai gizi yang dimakan, bisa makan sekali saja itu sudah bersyukur.

Tingkat ekonomi dan pendidikan yang rendah serta kurangnya akses kesehatan adalah kompleksitas masalah dalam pemberian layanan bagi kaum dhuafa. Tiga faktor ini seperti rantai yang saling mengikat.

Masyarakat miskin mengharap bantuan

Hampir setiap hari ada saja berita tentang pasien miskin ditolak. Berita ini sepertinya menjadi topik utama dan memperburuk wajah pelayanan kesehatan negri ini. Memang pemerintah telah memfasilitasi untuk masyarakat miskin yang ingin mendapatkan pelayanan kesehatan tetapi dari biaya yang dibayarkan masih jauh dibawah standar. Mari kita buka mata dan membandingkan anggaran kesehatan negara kita dengan negara lain. Total Produk Domestik Bruto (GDP), alokasi biaya untuk pendidikan dan kesehatan: Indonesia 2%, Kamboja 4%, Laos hampir 5%, Malaysia 10%, Philipina 15% dan Thailand mendekati 7%. Anggaran kesehatan yang seharusnya 10% menjadi terpotong menjadi 2% saja. Nah, bagaimana kita ingin menolong rakyat miskin dengan anggaran yang minim?. Kegelisahan rakyat miskin menjadi bertambah karena banyak Rumah Sakit yang menolak mereka karena tunggakan hutang dari pemerintah. Masyarakat miskin tidak mengenal angka-angka anggaran seperti itu, saat dihadapkan pada posisi sakit maka bantuan agar cepat ditangani yang diperlukan.

Syukurlah saat ini begitu banyak pihak-pihak yang meringankan beban mereka, Saat harapan pada pemerintah menipis maka ada secercah harapan kepada kelompok-kelompok masyarakat yang berani bertindak untuk membantu pelayanan kesehatan bagi rakyat miskin.

Layanan kesehatan cuma-cuma wujudkan sehat milik semua

LKC ( Layanan Kesehatan Cuma-cuma) yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa adalah salah satu harapan masyarakat miskin untuk mendapatkan akses kesehatan. Dengan slogannya Sehat Milik Semua maka program ini patut diapresiasi. Pelayanan kesehatannya bersifat langsung dirasakan oleh masyarakat dan program yang tidak langsung dirasakan tapi untuk masa depan kesehatan masyarakat seperti pembangunan sarana kesehatan.

Sehat memang Milik Semua

Sehat itu tidak mengenal strata sosial. Kaya ataupun miskin berhak untuk sehat. Banyak harapan tentang kesehatan yang ingin saya sampaikan melalui tulisan di blog ini antara lain :

  • Mari ciptakan masyarakat sehat. Penyuluhan akan lingkungan sehat harus selalu digalakkan. Sehat berawal dari diri sendiri, tidak peduli anda miskin atau tidak, faktor ini tidak boleh diabaikan.
  • Kegiatan yang dahulu selalu dilaksanakan orang tua kita harus digalakkan lagi, contohnya kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan memiliki keuntungan yaitu silahturahim, membangun kepekaan terhadap sesama serta lingkungan.
  • Pemerintah mulai dari pemimpin tertinggi sampai kepada aparat kesehatan diharapkan dapat merumuskan anggaran prioritas untuk kesehatan, sehingga masyarakat dapat merasakan akan mudahnya akses kesehatan, masyarakat tidak lagi beranggapan negatif bahwa layanan kesehatan adalah sebatas transaksi dagang. Layanan kesehatan adalah hak masyarakat sejak dilahirkan.

Sehat menjadi milik semua. Begitu pentingnya kesehatan berpengaruh pada tingkat pembangunan suatu negara. Semoga kedepannya pelayanan kesehatan akan lebih maju dan menjangkau semua kalangan.

The biggest enemy of health in the developing world, is poverty ( Musuh terbesar dari kesehatan dalam membangun dunia adalah kemiskinan itu sendiri - Kofi Annan )


TAGS kesehatan dhuafa pemerintah LKC dompet dhuafa kemiskinan


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post